Tokoh sentral di cerita ini, Prof. Robert Langdon, ahli simbologi, di panggil tengah malam ke Museum Louvre untuk menyelidiki kematian salah seorang kurator di museum. Sesosok mayat yang mati dalam posisi menyerupai virtuvian man, yakni posisi tubuh terbentang pada kedua kaki dan kedua tangan.
Posisi kematian yang "aneh" tersebut, ternyata disengaja oleh sang kurator itu sendiri, untuk memberi tanda kepada cucu perempuannya, bahwa dia telah meninggal dan harus melakukan beberapa hal, yang sungguh diluar dugaan. Disini peran Prof. Robert Langdon adalah membantu memecahkan misteri yang disampaikan oleh sang kurator tersebut melalui barang-barang bersejarah di Museum Louvre tersebut, antara lain, Lukisan terkenal dari Leonardo Da Vinci, Monalisa, Last Supper dan melalui analogi kisah-kisah masa lalu sejarah eropa, seperti Biarawan Sion, Ksatria Templar, Kaum Merovingian, Holy Grail, Opus Dei, bahkan ada dimunculkan pembicaraan tentang apakah Yesus itu menikah? Dan benarkah cucu kurator tersebut adalah keturunan Yesus?
Nah, dengan segala latar belakang yang nyata itu, buku ini menyuguhkan kepada kita perihal penyelidikan, mencari petunjuk, tanda, relasi, logika, kaukasalitas, benang merah, simbol sehingga mendapat kesimpulan akhir yang chaos, terutama bagi kaum christiani sendiri, setelah membaca apa yang di kisahkan dalam buku ini.
Namun, bagi saya, sebagai penikmat cerita fiksi, karya Dan Brown yang satu ini sungguh luar biasa. Membuat saya terobsesi ingin mengunjungi kota Paris dan bertualang mengikuti jejak-jejak cerita novel ini di Museum Lovre. Semoga.
Oh ya, DaVinci Code ini, judul dalam bahasa inggrisnya "The Da Vinci Code" juga sudah di Film-kan. Edisi blue ray, edisi Screen Two-Disc dan ada juga edisi Spesial Gift.
Setelah membaca karya Dan Brown yang ini, saya mulai mencari buku-buku karya nya sebelumnya. Sudah ada yang saya baca, yakni, Angels and Demon. Dan akan segera saya posting reviewnya.***

0 comments:
Post a Comment